Kulit manggis telah lama dikenal sebagai obat tradisional untuk beberapa mengobati infeksi kulit, luka, desentri, diare, exim, acne, alergi makanan dan lain-lain. Hasil penelitian modern menunjukkan bahwa kulit manggis memiliki berbagai sifat yang sangat baik bagi kesehatan, diantaranya adalah sebagai sumber antioksidan, anti jamur, antibakteri, dan memiliki sifat sitotoksik yang berguna dalam pengobatan kanker.
| Ilustrasi sumber: |
Beberapa penelitian menyatakan bahwa kandungan senyawa yang terkandung dalam kulit manggis terutama xanton dan turunannya yang bertanggung jawab atas sifat-sifat fungsional tersebut. Senyawa-senyawa tersebut merupakan kelompok metabolit sekunder yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding dengan kelompok metabolit primer, seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Dalam kulit manggis terdapat banyak senyawa aktif yang mendukung peranan kulit kayu manggis sebagai obat, namun dalam tulisan ini hanya dibahas beberapa sifat senyawa aktif turunan xanton yang terkandung dalam kulit manggis
1. α mangostin
Merupakan senyawa metabolit sekunder terbesar yang terkandung dalam kulit manggis, hasil penelitian Suksamrarn dkk 2006 menyatakan bahwa α mangostin memiliki kemampuan melawan pertumbuhan sel kanker payudara (BC-1) dengan nilai IC50 0.92 µg/ml dan melawan sel kanker epidermoid carninoma ( KB) dengan nilai IC50 2.08 µg/ml. Menurut Yoshiawa (1994) senyawa ini memiliki aktivitas antioksidan dengan pengujian thiocyanate, memiliki sifat antijamur.
2. γ mangostin
Merupakan senyawa metabolit sekunder terbesar kedua yang terkandung dalam kulit manggis. senyawa ini memiliki sifat sebagai antioksidan dengan pengujian thiocyanate yang lebih kuat dibanding α mangostin (Yoshikawa,1994). Hasil penelitian Suksamrarn dkk 2006 menunjukkan bahwa γ mangostin memiliki kemampuan melawan kanker epidermoid carninoma ( KB) dengan dengan nilai IC50 2.08 µg/ml dan bersifat antijamur.
3. β-Mangostin
Memiliki kemampuan yang cukup merata dalam memerangi sel kanker payudara, kanker epidermoid carcinoma dan kanker paru-paru dengan nilai IC50 masing masing adalah, 2.5 µg/ml, 2.04 µg/ml dan 2.88 µg/ml.
4. Garcinone D
Merupakan senyawa metabolit sekunder yang memiliki sifat antitumor, dan antijamur memiliki kemampuan melawan kanker payudara dan epidermoid carcinoma tetapi lebih lemah dari mangostin. Pada bagian akar pohon manggis garcinone menempati posisi terbanyak ketiga.
5. Mangostanol
Berdasarkan dari penelitian Suksamrarn dkk 2006, mangostanol tidak efektif dalam melawan kanker payudara dan epidermoid carcinoma tetapi bereaksi cukup kuat terhadap sel kanker paru paru (NCI-H187)dengan nilai IC50 1.15 µg/ml.
6.Gartanin
Berdasarkan dari penelitian Suksamrarn dkk 2006, mangostanol tidak efektif dalam melawan kanker payudara dan epidermoid carcinoma tetapi bereaksi cukup kuat terhadap sel kanker paru paru(NCI-H187) dengan nilai IC50 1.08 µg/ml, memiliki sifat antimikroba, dan anti jamur.
Keberadaan α mangostin dan γ mangostin dapat dipakai sebagai senyawa penanda untuk pengendalian mutu suplemen dari kulit manggis, Jung, A dkk (2006).
Sumber:
Jung, Hyun-Ah , Su, Bao-Ning ,
Keller, W J. , Mehta, Rajendra G., dan Kinghorn, A.D, 2006, Antioxidant Xanthones from the Pericarp of Garcinia
mangostana (Mangosteen), J. Agric. Food Chem. 54, 2077−2082
Pedraza-Chaverri, J, Cárdenas-Rodríguez, N, Orozco-Ibarra M, Pérez-Rojas, J M, 2008, Medicinal properties of mangosteen (Garcinia mangostana), Food and Chemical Toxicology 46 (2008) 3227–3239
Suksamrarn, dkk, 2006, Cytotoxic Prenylated Xanthones from the Young Fruit of
Garcinia mangostana, Chem. Pharm. Bull. 54(3) 301—305
Tidak ada komentar:
Posting Komentar